Coba – Coba

Peraturan Lomba Pembuatan Blog

Agustus 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagian dari anda tentu ada yg pecinta korean drama. bahkan saat ini
indosiar masih menyiarkan serial drama korea Hwang Ji Ni. Di antara
semua koleksi soundtrack ostnya, nyaris semuanya enak di dengar.
bahkan saya pribadi menyimpan koleksi ost ini di hape. buat lagu
pengiring tidur.

yang mau download silakan aja ke sini:
http://benbego.com/hwang-ji-ni-ost-soundtrack-mp3-korean-drama/

Satu lagi yg saya yakin gak semua orang nonton, yaitu drama korea Hong
Gil Dong. Cukup baru. Masih tahun sekarang lah. Untuk indonesia
sendiri baru bisa nonton dari dvd. itupu klo mau. filmnya ok, seru,
lucu, seperti biasa, kisah cinta. yg main kang ji hwan, sung yu ri,
sama jang geun suk. sebelumnya jang geun suk juga main di film hwang
jini sebagai eun ho yg telah meninggal itu. Anehnya, perannya sedih
juga. Jd klo nonton film ini ada kemungkinan bakal nangis ember juga. :p
ada 24 episode. sayangnya nih film harus di donlot dulu ya klo mau
nonton. ato mending beli aja dvdnya. udah ada kok bajakannya.

untuk ostnya bisa di ambil disini:
http://benbego.com/hong-gil-dong-ost-mp3/

Belum lengkap sih. tapi nanti juga di lengkapi kok. tunggu aja. inti
lagu ostnya ada di nomor 2. manyageh itu. soalnya ini lagu pasti
selalu ada di tiap episode dan lagunya sedih. nanti deh aku bikinin
liriknya.

yg terakhir dan tidak diharapkan, pcmav 1.4 build 3 download disini:
http://benbego.com/antivirus-pcmav-14-update-build-3/

Salam.
Rezki
http://benshared.com (Freeware Blog)

__._,_.___

MARKETPLACE

Special offer for Yahoo! Groups from Blockbuster! Get a free 1-month trial with no late fees or due dates.

Yahoo! Groups

Discover healthy

living groups and

live a full life.

Wellness Spot

Embrace Change

Break the Yo-Yo

weight loss cycle.

Yahoo! Groups

Stay healthy

and discover other

people who can help.

.


__,_._,___

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

KIAT MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR DI SEKOLAH

Agustus 13, 2008 · 1 Komentar

Mohammad Arifana, M.Pd

*) Guru SMAN 21 Surabaya

Sering kali prestasi belajar anak didik menurun atau rendah yang dipersalahkan adalah anak didik, karena alasan inilah, kurang itulah, ujung- ujungnya yang tetap dipersalahkan adalah obyek didik adalah siswa. Namun yang perlu dipikirkan untuk meningkatkan prestasi atau mutu pendidikan tidak semata- mata tidak hanya bertumpu pada siswa saja karena mutu pendidikan merupakan suatu system yang terkait. Peran guru dan komponen sekolah lainnya sangat berpengaruh terhadap kualitas anak didik. Guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu mengembangkan budaya belajar pada anak didiknya agar mampu meningkatkan prestasinya di sekolah.

Budaya belajar dapat didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan, gagasan, nilai, kebiasaan, dan perilaku yang berpola atau bersistem yang dimiliki oleh suatu lembaga dan atau masyarakat yang berkenaan dengan belajar. Budaya belajar ini merupakan jantung kehidupan suatu lembaga dan atau masyarakat sehingga ia menentukan keberadaan dan keadaan suatu lembaga dan atau masyarakat.

Suatu lembaga dan atau masyarakat yang eksis secara bermartabat lazimnya menjadikan budaya belajar sebagai kebutuhan dan kebiasaan, bahkan parameter sikap dan perilaku. Sebab itu, suatu masyarakat yang andal dan tangguh selalu memiliki tradisi budaya belajar yang kuat dan cemerlang guna menanggapi berbagai tantangan dan tuntutan. Budaya belajar menjadi norma dan parameter perilaku warga sekolah sehingga lambat laun berlaku dalil sekolah: “yang tidak belajar jangan ikut di sekolah ini” atau “tiada hari tanpa belajar”. Karena itu, sekolah yang tangguh dan andal selalu bercirikan: (a) menempatkan budaya belajar sebagai pilar proses pendidikan dan (b) memiliki warga sekolah terutama guru-guru dan siswa-siswa yang senantiasa menjadikan belajar sebagai panduan dan parameter segenap sikap dan perilaku. Jadi, sekolah yang baik merupakan sekolah yang dapat belajar berkat warganya menempatkan belajar sebagai kesadaran, kebutuhan, tradisi, dan parameter segenap gerak dalam mempertahankan, menjalankan, dan mengembangkan eksistensi yang beradab, bermartabat, dan manusiawi.

Adapun menurut Sariyono (2005) kiat membangun dan memantapkan tradisi budaya belajar yang baik dan andal di sekolah dan pada diri warga sekolah sebagai berikut.

a. Jadikan belajar sebagai keyakinan, pandangan dunia, dan pandangan hidup di sekolah dan pada diri warga sekolah. Misalnya, belajar itu perintah agama atau belum menjadi manusia kalau belum belajar.

b. Tegakkan dan tumbuh-kuatkan kesadaran belajar sebagai ruh segala gerak kegiatan di sekolah yang dimiliki dan dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah baik kepala sekolah, guru maupun siswa.

c. Kembangkan belajar sebagai nilai dan norma (etika dan etiket) di sekolah yang mengikat seluruh warga sekolah. Misalnya, buang olok-olok kutu buku dan tumbuhkan semangat belajar santapan ruhaniku.

d. Ciptakan sikap dan perilaku belajar yang konstruktif dalam segenap gerak kegiatan sekolah yang perlu dilakukan oleh seluruh warga sekolah.

e. Ciptakan suasana (lingkungan) sekolah dan interaksi antar-warga sekolah yang nyaman dan menyenangkan bagi sikap dan perilaku belajar yang harus dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah.

f. Bangun dan laksanakan kesepakatan bersama antar-warga sekolah untuk menempatkan kebiasaan dan kegiatan belajar sebagai pilar kegiatan sekolah yang harus diwujudkan oleh seluruh warga sekolah.

g. Kembangkan kesempatan (momentum) dan peluang-peluang yang leluasa dan bebas untuk ekspresi belajar bagi seluruh warga sekolah baik di kelas maupun di luar kelas.

h. Adakan, penuhi, dan fungsikan parasarana dan sarana-sarana belajar, misalnya bacaan dan forum-forum, yang memungkinkan seluruh warga sekolah (guru dan siswa) mengekspresikan kegiatan belajar dengan nyaman dan menyenangkan.

Tradisi budaya belajar yang harus ada dan berkembang dalam sekolah beserta warga sekolah yang tangguh dan andal. Sekolah yang tangguh dan andal paling tidak perlu mengembangkan empat macam tradisi budaya belajar sebagai berikut. Pertama, tradisi budaya belajar selama hayat (lifelong learning). Di sini sekolah beserta warga sekolah selalu belajar tiada henti. Kedua, tradisi belajar untuk mengetahui (learning how to know), untuk berbuat (learning how to do), untuk hidup bersama orang lain (learning how to live together), dan untuk menjadi diri sendiri yang berwatak dan bermutu serta bermartabat (learning how to be). Di sini bukan hanya siswa, tapi juga guru, harus selalu mau mengikuti rute belajar tersebut. Baik siswa maupun guru tidak boleh hanya berhenti pada salah satu stasiun belajar tersebut. Ketiga, secara khusus, tradisi budaya belajar berliterasi (bermahir-wacana) yang meliputi mahir berpikir kritis-membaca-menulis (reading-writing literacy), mahir wacana matematis (mathematical literacy), mahir wacana sains (scientifical literacy), dan mahir mengungkap dan memecahkan masalah (problem posing and problem solving) untuk kehidupan sehari-hari. Di sini diperlukan kebiasaan, kegemaran, dan perilaku berpikir kritis, membaca-menulis, bermatematika, dan bersains guna mengungkapkan dan memecahkan masalah. Keempat, secara khusus pula, tradisi belajar hal-hal yang memang perlu dipelajari (learning how to learn) dan meninggalkan hal-hal yang tidak perlu (learning how to unlearn). Hal tersebut menunjukkan bahwa cakupan atau wilayah tradisi budaya belajar yang perlu dikembangkan di sekolah dan dimiliki oleh warga sekolah cukup beragam dan luas. Di sinilah diperlukan kemampuan adversitas atau tahan banting (adversity quotient), bukan sekadar kecerdasaan intelektual, emosional, dan atau spiritual.

Sebagai akhir simpulan, untuk mengembangkan dan meningkatkan prestasi serta mutu pendidikan pada intinya yang perlu dikembangkan pada siswa adalah budaya dan tradisi belajar siswa yang perlu perhatian ekstra dari guru. Setelah terbentuknya budaya dan tradisi belajar siswa maka dengan mudahnya guru mengarahkan dan menata generasi di masa depan yang penuh gemilang.

→ 1 CommentKategori: Uncategorized